assalamualaikum wr.wb
Sahabat setia Life Must Go On,, kali ini saya akan memposting tetang cerita rakyat " Rara Jonggrang" yaitu berasal dari JAWA TENGAH....
seperti apa cerita selanjutnya, monggo disimak......
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Sunday, 15 September 2013
Tuesday, 9 April 2013
Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah
Assalamualaikum wr.wb
Yuukkk sobat LiMusGoN disimak cerita yang satu ini,,,,
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Yuukkk sobat LiMusGoN disimak cerita yang satu ini,,,,
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
Wednesday, 9 November 2011
Seseorang Yang Telah Merebut Perhatian Ku..
Salah seorang yang selama ini sudah cukup lama ku kenal, merebut perhatianku untu terus menerus berdebat ringan. Sebenarnya dia baik dan sopan. Hanya saja kurang percaya diri. padahal jika dilihat dari tampangnya terbilang sangat lumayan kalo nggak boleh dibilang cukup tampan begitulah kira kira.
Setelah basa basi ngobrol panjang lebar kesana kemari akhirnay sampailah aku pada satu kesimpulan bahwa sobat yang satu ini sedang membutuhkan seorang yang sangat memperhatikannya sepenuh hati alias sedang merindukan hadirnya belahan hati jieee….
Hanya saja dia lebih sering pesimis daripada optimisnya.
Hampir disetiap postingannya, ku simak lebih banyak perkataan yang maaf ngacau, jika tidak tidak boleh dibilang negative. Lebih banyak perkataan yang mengeluh, menghujat, atau mengata-ngatai apasaja yang membuatnya mungkin merasa kurang nyaman.
Ada nada kekecewaan dan kesakit hatian disana. Daripada harapan dan semangat yang tinggi.
Meski sebenernya hampir setiap orang juga pernah sakit hati hanya saja cara menyikapinya berbeda.
Orang bilang, teko hanya mengeluarkan isi tekonya nya, didalam bening keluar bening, didalam kopi yang keluarpun dipastikan air berwarna hitam keruh. Begitupun dengan isi hati.
Setelah mengutarakan beberapa perasaan yang tengah melandanya tibalah pada suatu pertanyaan yang agak lucu dan membuatku tersenyum .
Dia bertanya padaku “ Mbak, ada cewe nggak yah?” tanyannya setengah bernada putus asa. Aku langsung saja konek sok mengerti dan memahami isi hatinya.
"Setelah menyimak perkataannya beberapa menit yang lalu kurasa aku paham apa maksudnya". pikirku kala itu
Toh niatku untuk membesarkan hatinya dan menghilanglan keragu raguannya yang selama ini menghantuinya, aku hanya ingin membuktikan bahwa tak semua teman dimaya itu akan menyakitinya dan melukainya.
Kubuat dia merasa se-nyaman mungkin dengan lebih banyak memujinya daripada menyetujui keluhannya apalagi mengkritik dan menghina kepolosannya.
Agar dia tau bahwa aku menyayanginya sebagai sohibahnya dan berusaha memperhatikan dengan menyimak dan menjawab semua pertanyaannya.
Langsung saja kujawab dengan jawaban yang optimis dan terkesan tutup point tanpa bertele tele.
“Oh, ada, kamu mau menikah?” candaku agak tegas.”Ya semua orang pasti mau menikah lah Mbak, ini pertanyaan atau ejekan hehehe” jawabnya lagi.
“Iya, aku tau. Maksudku adalah, apakah kamu sudah siap menikah dalam waktu dekat? Aku ada tuh temen yang sudah siap menikah, dia cukup cantik, dia juga seorang muslimah yang baik dan taat. pintar lagi dan yang tak kalah penting dia juga sudah punya penghasilan sendiri. Cukup sempurna bukan sebagai calon istri yang ideal? Sudah memenuhi kriteria dech hehehe.. udah gitu dari keluarga baik baik juga, ini loh yang tak ketinggalan,, dan insya Allah dia bisa menjadi calon istri yang solehah.. sekarang tinggal tugasmu mampukah kau menunjukan kejantananmu heheeheheh....” jelasku panjang lebar.
Kukira dia akan senang dan langsung mengiyakan rekomendasiku. Eh malah dia balik bertanya,”Kamu mau nggak?” “Hah, mau apaan?” tanyaku bloon meski sudah ngeh hanya saja memastikan dan memancing sejauh mana keberaniannya.
"Ya mau nggak jadi ceweku” jawabnya lagi polos. kujawab dengan mengirimkan emotion wajah tertawa lebar "Kek nawarin permen aja, kamu mau nggak ? hehehe” dia jawab dengan emotian sad alias menunjukan wajah sedih.
“ Iya Mbak, aku serius. Kenapa nggak kamu aja yang jadi ceweku? Kamu juga kan belum menikah dan aku.... mmm”. balasnya lagi sedikit lebih berani.
Jelas sekali ada rasa keragu-raguan didalam cara dia bertanya atau mengutarakan perasaannya. Sesaat aku akan bilang "Kenapa sih tidak langsung saja bilang saya ingin mengajukan diri gitu loh… kan nggak terkesan pengecut?" Pikirku saat itu tapi segera ku tahan.
Meski ku akui aku juga sudah merasakan aroma kekagumannya padaku sejak lama tapi aku tak mau terlalu ke PDan atau membusungkan dada dengan cara pura pura tidak tau dan tidak merasa. Sebelum tau yang sesungguhnya sekalian tes seberapa beraninya dia? toh ternyata sampai disni saja. Ya tentu saja aku makin semangat dalamm mempromosikan temanku sendiri.
Maka dia yang telah ku anggap sahabat dekat yang butuh support atau tepatnya ku anggap seperti adikku yang masih SMA di kampung sana, kutanyai lagi.
“Kamu mau nggak ku kasih tau cara meminang? Agar nanti kamu nggak takut ditolak ama cewe yang kamu sukai” godaku seraya memberikan emition twink.
“Kamu mau kan jadi pria idaman wanita? “ ledekku lagi
"Mau mau mau Mbak, gimana caranya” sergahnya antusias.
"kamu itu kan cowo jadi kamu ini calon imam apakah kamu sudah menyadari hal ini?" tanyaku padanya lagi. Kemudian dia jawab
"Iya, aku tau Mbak.."
"Nah, sebagai calon imam, kamu seharusnya mempersiapkan diri menjadi seorang imam yang tangguh idola wanita. Jika memang ingin mendapatkan wanita yang ideal seperti kriteriamu tempo hari itu. Minimal kamu harus berfikir madiri sebelum mandiri secara ekonomi"
"Maksud Mbak?"
"Ya, selain wanita itu butuh rasa aman denganmu sebagai sandaran hatinya dia juga kan seorang makmum? Nah artinya dia membutuhkanmu sebagai imam atau panutan, pembimbing, penunjuk menuju jalan yang diridhoiNya, lalu bagaimana kalo imamnya masih ragu ragu dan nggak kokoh berdiri atuh wanita yang ingin bersandar dibahumu juga takut oleng, kamu paham kan maksudku"
"Belum paham Mbak.."
"Simpelnya begini, jika kamu sudah menemukan tambatan hatimu nanti, maka hal pertama yang kamu tunjukan adalah kemandirian pribadimu serta ketegaranmu, rencanamu ke depan, kehidupan macam apa yang kamu tawarkan untuknya, independent gitu loh nggak nyandar sana sini dan nggak takut jatuh, terserah dia nanti mau menerimaamu atau tidak yang penting tunjukan dulu bahwa kamu seorang yang mandiri dan layak diiperhitungkan.
Contohnya begini, aku punya rencana begini ....dan sedang melakukan ini.... dengan tujuan ini .....aku ingin kamu berada disini untuk mendukung mewujudkan rencanaku tadi, aku sudah mempersiapkan ini sementara sudah ada ini... dan ini .... berkenankan engkau wahai....
Tawari saja dia, mendukung rencanamu itu atau tidak? jika ditolak-pun kamu masih punya harga diri dengan menunjukan diri sebagai lelaki yang tegar punya rencana masa depan yaang jelas dan lugas" jelasku panjang lebar.
"Contohnya gimana Mbak?"
"Ya carilah buku buku petunjuk meminang yang islami banyak ko di toko toko buku di indonesia" karena ku sudah agak capek meladeni beberapa keluhannya yang pesimistis sedari tadi. Dan percakapan kala itu usai sampai disitu lama dia tak pernah menyapaku lagi mungkin dia tersinggung dengan keterus teranganku yang terkesan menggurui
Lalu setelah beberapa lama tak muncul batang hidungnya dia kembali lagi bersua dengan semangatnya yang baru dan terkesan terburu buru setelah berulum salam dan sedikit obrolan ringan tanya kabar dan keluarga dia menulis.
Wahai Uhkti yang yang senantiasa dekat dihati. Sebenarnya aku sedang punya program ingin menyempurnakan separuh Agama dalam waktu dekat ini. Dan tengah merencanakan dan mempersiapkan diri ingin mendapatkan keturunan yang baik dan barokah dengan pernikahan yang sederhana . Dan aku ingin Ukhti menemaniku untuk mewujudkan semua itu, bersediakah Ukhti yang baik hati ini menemaniku dalam keadaan dan susah dan senang bersama, saling berbagi dan saling melayani karena Allah?
"Hem kata katamu boleh juga, ada kemajuan tuh, coba aja praktekin ama orang yang kamu pilih, kurasa dia nggak akan nolak kalaupun nolak tenang aja, aku disini selalu mendukung en menyemangatimu" pujiku tulus seraya membesarkan hatinya.
"Loh, ini emang aku lagi praktek ama orang yang ku maksud, yang ku maksud adalah kamu calon bidadariku maukah engkau menjadi makmuku"
Glodak...! balasku lagi
"Ya aku tau, Ukhti pasti akan menolakku dan akan mencari yang lebih dariku yang alim, soleh, dalam pengetahuan agamanya dan mandiri seperti yang kutangkap dari pembicaraan Ukhti selama ini"
"Je ileh.. dia sudah manggil aku Ukhti lagi, bukan Mbak lagi" pikirku
"Ya kalo yang soleh ingin mendapatkan pendamping yang solehah dan dan begitu juga seterusnya itu pasti, tapi coba Ukhti pikir, apakah syiar islam ini akan bertebar maksimal? nggak kan? yang ada hanya terbagi beberapa golongan saja yaitu golongan si soleh dan si solehah mengumpul di suatu wadah yang terbaik dan terjaga tanpa menyentuh yang tengah kegersangan dan merindukan setitik hidayah" tuturnya panjang lebar padaku dan membuatku terdiam.
"Padahal yang sudah solehah bisa jadi akan mampu menyinari yang belum soleh jika dia tulus dan bersedia. Yang sudah baik keimamannya jangan hanya berharap mendapatkan yang lebih baik dan di atasnya, kenapa sih tidak mencoba berbagi dengan yang masih kosong seperti saya misalnya, kurasa masih banyak diluaran sana yang senasib denganku menunggu sentuhan kasih dari seorang yang soleh jika ia wantita dan solehah jika dia pria seperti contohnya ya aku ini yang mebutuhkanmu yang solehah" dia terus saja berpanjang lebar sementara aku hanya diam tertunduk menyesali kesombonganku
"Tapi aku juga kan belum alim dan belum solehah oke lah Aamiin makasih ya doamu jika kamu mengatakan aku solehah berarti itulah doamu padaku, aku berterimakasih kamu mendoakanku begitu.
Aku juga masih nol masih memburu setitik cahaya terang yang akan terus menyinari hati dan hidupku, maka tak perlu di pertanyakan dan kurasa aku optims menginginkan seorang imam yang tegas dan kuharapkan dia telah kokoh keimamannya serta mampu bertahan nanti ditengah kerasnya badai kehidupan hinga aku sebagai makmum berharap khilafku akan terjaga jikalau ada cermin disampingku yang senantiasa mengingatkan" kilahku membela diri.
"Ya meskipun pengetahuanku masih nol jangan pesimis dan meragukanku, sekarang aku optimis aku juga mampu menjadi imam yang tangguh sungguh akan ku buktikan itu, sekarang yang pesimis malah kamu dengan cara tidak menerimaku itu berarti sama saja kamu mengatakan bahwa aku tidak punya kesempatan untuk berubah menjadi imam yang ideal dambaan perempuan" tegasnya mantap seolah menamparku
Setelah basa basi ngobrol panjang lebar kesana kemari akhirnay sampailah aku pada satu kesimpulan bahwa sobat yang satu ini sedang membutuhkan seorang yang sangat memperhatikannya sepenuh hati alias sedang merindukan hadirnya belahan hati jieee….
Hanya saja dia lebih sering pesimis daripada optimisnya.
Hampir disetiap postingannya, ku simak lebih banyak perkataan yang maaf ngacau, jika tidak tidak boleh dibilang negative. Lebih banyak perkataan yang mengeluh, menghujat, atau mengata-ngatai apasaja yang membuatnya mungkin merasa kurang nyaman.
Ada nada kekecewaan dan kesakit hatian disana. Daripada harapan dan semangat yang tinggi.
Meski sebenernya hampir setiap orang juga pernah sakit hati hanya saja cara menyikapinya berbeda.
Orang bilang, teko hanya mengeluarkan isi tekonya nya, didalam bening keluar bening, didalam kopi yang keluarpun dipastikan air berwarna hitam keruh. Begitupun dengan isi hati.
Setelah mengutarakan beberapa perasaan yang tengah melandanya tibalah pada suatu pertanyaan yang agak lucu dan membuatku tersenyum .
Dia bertanya padaku “ Mbak, ada cewe nggak yah?” tanyannya setengah bernada putus asa. Aku langsung saja konek sok mengerti dan memahami isi hatinya.
"Setelah menyimak perkataannya beberapa menit yang lalu kurasa aku paham apa maksudnya". pikirku kala itu
Toh niatku untuk membesarkan hatinya dan menghilanglan keragu raguannya yang selama ini menghantuinya, aku hanya ingin membuktikan bahwa tak semua teman dimaya itu akan menyakitinya dan melukainya.
Kubuat dia merasa se-nyaman mungkin dengan lebih banyak memujinya daripada menyetujui keluhannya apalagi mengkritik dan menghina kepolosannya.
Agar dia tau bahwa aku menyayanginya sebagai sohibahnya dan berusaha memperhatikan dengan menyimak dan menjawab semua pertanyaannya.
Langsung saja kujawab dengan jawaban yang optimis dan terkesan tutup point tanpa bertele tele.
“Oh, ada, kamu mau menikah?” candaku agak tegas.”Ya semua orang pasti mau menikah lah Mbak, ini pertanyaan atau ejekan hehehe” jawabnya lagi.
“Iya, aku tau. Maksudku adalah, apakah kamu sudah siap menikah dalam waktu dekat? Aku ada tuh temen yang sudah siap menikah, dia cukup cantik, dia juga seorang muslimah yang baik dan taat. pintar lagi dan yang tak kalah penting dia juga sudah punya penghasilan sendiri. Cukup sempurna bukan sebagai calon istri yang ideal? Sudah memenuhi kriteria dech hehehe.. udah gitu dari keluarga baik baik juga, ini loh yang tak ketinggalan,, dan insya Allah dia bisa menjadi calon istri yang solehah.. sekarang tinggal tugasmu mampukah kau menunjukan kejantananmu heheeheheh....” jelasku panjang lebar.
Kukira dia akan senang dan langsung mengiyakan rekomendasiku. Eh malah dia balik bertanya,”Kamu mau nggak?” “Hah, mau apaan?” tanyaku bloon meski sudah ngeh hanya saja memastikan dan memancing sejauh mana keberaniannya.
"Ya mau nggak jadi ceweku” jawabnya lagi polos. kujawab dengan mengirimkan emotion wajah tertawa lebar "Kek nawarin permen aja, kamu mau nggak ? hehehe” dia jawab dengan emotian sad alias menunjukan wajah sedih.
“ Iya Mbak, aku serius. Kenapa nggak kamu aja yang jadi ceweku? Kamu juga kan belum menikah dan aku.... mmm”. balasnya lagi sedikit lebih berani.
Jelas sekali ada rasa keragu-raguan didalam cara dia bertanya atau mengutarakan perasaannya. Sesaat aku akan bilang "Kenapa sih tidak langsung saja bilang saya ingin mengajukan diri gitu loh… kan nggak terkesan pengecut?" Pikirku saat itu tapi segera ku tahan.
Meski ku akui aku juga sudah merasakan aroma kekagumannya padaku sejak lama tapi aku tak mau terlalu ke PDan atau membusungkan dada dengan cara pura pura tidak tau dan tidak merasa. Sebelum tau yang sesungguhnya sekalian tes seberapa beraninya dia? toh ternyata sampai disni saja. Ya tentu saja aku makin semangat dalamm mempromosikan temanku sendiri.
Maka dia yang telah ku anggap sahabat dekat yang butuh support atau tepatnya ku anggap seperti adikku yang masih SMA di kampung sana, kutanyai lagi.
“Kamu mau nggak ku kasih tau cara meminang? Agar nanti kamu nggak takut ditolak ama cewe yang kamu sukai” godaku seraya memberikan emition twink.
“Kamu mau kan jadi pria idaman wanita? “ ledekku lagi
"Mau mau mau Mbak, gimana caranya” sergahnya antusias.
"kamu itu kan cowo jadi kamu ini calon imam apakah kamu sudah menyadari hal ini?" tanyaku padanya lagi. Kemudian dia jawab
"Iya, aku tau Mbak.."
"Nah, sebagai calon imam, kamu seharusnya mempersiapkan diri menjadi seorang imam yang tangguh idola wanita. Jika memang ingin mendapatkan wanita yang ideal seperti kriteriamu tempo hari itu. Minimal kamu harus berfikir madiri sebelum mandiri secara ekonomi"
"Maksud Mbak?"
"Ya, selain wanita itu butuh rasa aman denganmu sebagai sandaran hatinya dia juga kan seorang makmum? Nah artinya dia membutuhkanmu sebagai imam atau panutan, pembimbing, penunjuk menuju jalan yang diridhoiNya, lalu bagaimana kalo imamnya masih ragu ragu dan nggak kokoh berdiri atuh wanita yang ingin bersandar dibahumu juga takut oleng, kamu paham kan maksudku"
"Belum paham Mbak.."
"Simpelnya begini, jika kamu sudah menemukan tambatan hatimu nanti, maka hal pertama yang kamu tunjukan adalah kemandirian pribadimu serta ketegaranmu, rencanamu ke depan, kehidupan macam apa yang kamu tawarkan untuknya, independent gitu loh nggak nyandar sana sini dan nggak takut jatuh, terserah dia nanti mau menerimaamu atau tidak yang penting tunjukan dulu bahwa kamu seorang yang mandiri dan layak diiperhitungkan.
Contohnya begini, aku punya rencana begini ....dan sedang melakukan ini.... dengan tujuan ini .....aku ingin kamu berada disini untuk mendukung mewujudkan rencanaku tadi, aku sudah mempersiapkan ini sementara sudah ada ini... dan ini .... berkenankan engkau wahai....
Tawari saja dia, mendukung rencanamu itu atau tidak? jika ditolak-pun kamu masih punya harga diri dengan menunjukan diri sebagai lelaki yang tegar punya rencana masa depan yaang jelas dan lugas" jelasku panjang lebar.
"Contohnya gimana Mbak?"
"Ya carilah buku buku petunjuk meminang yang islami banyak ko di toko toko buku di indonesia" karena ku sudah agak capek meladeni beberapa keluhannya yang pesimistis sedari tadi. Dan percakapan kala itu usai sampai disitu lama dia tak pernah menyapaku lagi mungkin dia tersinggung dengan keterus teranganku yang terkesan menggurui
Lalu setelah beberapa lama tak muncul batang hidungnya dia kembali lagi bersua dengan semangatnya yang baru dan terkesan terburu buru setelah berulum salam dan sedikit obrolan ringan tanya kabar dan keluarga dia menulis.
Wahai Uhkti yang yang senantiasa dekat dihati. Sebenarnya aku sedang punya program ingin menyempurnakan separuh Agama dalam waktu dekat ini. Dan tengah merencanakan dan mempersiapkan diri ingin mendapatkan keturunan yang baik dan barokah dengan pernikahan yang sederhana . Dan aku ingin Ukhti menemaniku untuk mewujudkan semua itu, bersediakah Ukhti yang baik hati ini menemaniku dalam keadaan dan susah dan senang bersama, saling berbagi dan saling melayani karena Allah?
"Hem kata katamu boleh juga, ada kemajuan tuh, coba aja praktekin ama orang yang kamu pilih, kurasa dia nggak akan nolak kalaupun nolak tenang aja, aku disini selalu mendukung en menyemangatimu" pujiku tulus seraya membesarkan hatinya.
"Loh, ini emang aku lagi praktek ama orang yang ku maksud, yang ku maksud adalah kamu calon bidadariku maukah engkau menjadi makmuku"
Glodak...! balasku lagi
"Ya aku tau, Ukhti pasti akan menolakku dan akan mencari yang lebih dariku yang alim, soleh, dalam pengetahuan agamanya dan mandiri seperti yang kutangkap dari pembicaraan Ukhti selama ini"
"Je ileh.. dia sudah manggil aku Ukhti lagi, bukan Mbak lagi" pikirku
"Ya kalo yang soleh ingin mendapatkan pendamping yang solehah dan dan begitu juga seterusnya itu pasti, tapi coba Ukhti pikir, apakah syiar islam ini akan bertebar maksimal? nggak kan? yang ada hanya terbagi beberapa golongan saja yaitu golongan si soleh dan si solehah mengumpul di suatu wadah yang terbaik dan terjaga tanpa menyentuh yang tengah kegersangan dan merindukan setitik hidayah" tuturnya panjang lebar padaku dan membuatku terdiam.
"Padahal yang sudah solehah bisa jadi akan mampu menyinari yang belum soleh jika dia tulus dan bersedia. Yang sudah baik keimamannya jangan hanya berharap mendapatkan yang lebih baik dan di atasnya, kenapa sih tidak mencoba berbagi dengan yang masih kosong seperti saya misalnya, kurasa masih banyak diluaran sana yang senasib denganku menunggu sentuhan kasih dari seorang yang soleh jika ia wantita dan solehah jika dia pria seperti contohnya ya aku ini yang mebutuhkanmu yang solehah" dia terus saja berpanjang lebar sementara aku hanya diam tertunduk menyesali kesombonganku
"Tapi aku juga kan belum alim dan belum solehah oke lah Aamiin makasih ya doamu jika kamu mengatakan aku solehah berarti itulah doamu padaku, aku berterimakasih kamu mendoakanku begitu.
Aku juga masih nol masih memburu setitik cahaya terang yang akan terus menyinari hati dan hidupku, maka tak perlu di pertanyakan dan kurasa aku optims menginginkan seorang imam yang tegas dan kuharapkan dia telah kokoh keimamannya serta mampu bertahan nanti ditengah kerasnya badai kehidupan hinga aku sebagai makmum berharap khilafku akan terjaga jikalau ada cermin disampingku yang senantiasa mengingatkan" kilahku membela diri.
"Ya meskipun pengetahuanku masih nol jangan pesimis dan meragukanku, sekarang aku optimis aku juga mampu menjadi imam yang tangguh sungguh akan ku buktikan itu, sekarang yang pesimis malah kamu dengan cara tidak menerimaku itu berarti sama saja kamu mengatakan bahwa aku tidak punya kesempatan untuk berubah menjadi imam yang ideal dambaan perempuan" tegasnya mantap seolah menamparku
Friday, 28 October 2011
Aku Terpaksa Menikahinya (Kisah inspiratif untuk para istri dan suami)
Sahabat Hikmah...
Semoga kisah di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Sunday, 23 October 2011
Cinta vs Persahabatan
Assalamualailum wr.wb
Sobat LiMusGoN mungkin kita akan bertanya-tanya seperti apa definisi cinta vs persahabatan itu... nah bagi sobat yang ingin mengetahuinya yuuukk mari disimak lebih dalam lagi penggalan cerita berikut ini,, hehheehhe ^_^
Sobat LiMusGoN mungkin kita akan bertanya-tanya seperti apa definisi cinta vs persahabatan itu... nah bagi sobat yang ingin mengetahuinya yuuukk mari disimak lebih dalam lagi penggalan cerita berikut ini,, hehheehhe ^_^
Malam demi malam sepi kini menemaniku, temanku kini hanyalah bulan bintang dan kesepian. Aku menyaesal, mengapa penyesalan selalu datang terlambat? Andai saja dulu aku tak mengambil tindakan bodoh itu, mungkin malam ini aku sedang bercengkrama dan bercanda dengan semua temanku, tidak seperti malam ini dan mungkin yang akan seterusnya kulalui “ sepi “ tanpa suara tawa teman – temanku yang aku rindukan. Awal dari semua masalah ini adalah diwaktu aku dikenalkan oleh seorang pria kenalan sahabatku, pertama aku di kenalkan lewat sebuah pesan singkat. Setelah beberapa hari berlanjut hubunganku dengan pria itu tapi hanya lewat sms.
Subscribe to:
Posts (Atom)
